Bahasa Madura Diputuskan Masuk Kampus

Sumenep – Kongres Kebudayaan Madura II yang berlangsung di Kabupaten Sumenep pada 21-23 Desember 2012, menghasilkan beberapa rekomendasi tentang pelestarian budaya Madura.

Diantaranya membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang bahasa Madura dan mencanangkan program studi Bahasa Madura di beberapa perguruan tinggi di Pulau Madura. “Bahasa madura harus dilestarikan,” kata Ketua Said Abdullah Institut, Januar Herwanto, penyelenggara Kongres Kebudayaan Madura II, kemarin.

Menurut Januar, jika tidak dilestarikan, maka bahasa Madura akan punah seperti banyak bahasa daerah lainnya di Indonesia. Kekhawatiran ini, kata dia, juga diperkuat penelitian PBB yang menyebut setiap tahun 300 bahasa daerah di dunia punah. “Kita harus mencegah punahnya bahasa Madura,” katanya.

Tanda-tanda punahnya bahasa Madura mulai tampak terutama pada generasi muda yang malu menggunakan bahasa ini di tempat umum. “Kalau ke Surabaya sama teman-teman, saya pasti pakai bahasa Indonesia,” kata Faik Rahman, mahasiswa peserta Kongres Kebudayaan Madura. “Sering ditertawakan orang kalau pakai bahasa Madura.”

Faik menilai, memasukkan bahasa Madura sebagai program studi di sekolah tinggi kurang efesien dan diperkirakan kurang banyak peminatnya. “Orang Madura disuruh belajar bahasa Madura, ya susah,” ungkapnya.

Pengamat Budaya Madura, Dovier Syah, mengatakan jika pemerintah daerah ingin bahasa Madura tetap lestari, tidak cukup dengan peraturan daerah atau membuat studi bahasa Madura di Universitas. Pemerintah, kata dia, harus mulai membumikan bahasa Madura di daerahnya sendiri. Misalnya, pada nama desa atau kecamatan.

Saat ini di Madura kebanyakan nama desa telah di Indonesiakan. Contohnya Desa Ketapang Laok, kini diubah menjadi Desa Ketapang Selatan. “Mestinya nama daerah disesuaikan bahasa ucap masyarakat Madura,” terangnya.

Menurut Dovier, sejauh ini dia melihat hanya suku betawi di jakarta yang bisa “menasionalkan” bahasa daerahnya. “Orang daerah kalau ke jakarta, dengan sendirinya akan bicara loe gue, karena bahasa betawi sekarang superior,” katanya. tmp